TAG - BLOGQ

Tampilkan postingan dengan label AYAM BURAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AYAM BURAS. Tampilkan semua postingan

BIBIT AYAM BURAS

Sumber Gambar: waterholio.blogspot.com
Ayam buras/kampung mempunyai keragaman produktivitas yang tinggi, sehingga mempunyai potensi untuk dilakukan seleksi pemilihan bibit ayam buras yang lebih tinggi produksi telur maupun laju pertumbuhannya.
Ayam buras sejak lama sudah dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia terutama yang tinggal di pedesaan. Pada umumnya ayam dipelihara secara diumbar di halaman dan di kebun sekitar rumah, sebagian dipelihara secara semi intensif dan lebih sedikit mengusahakan secara intensif.Permasalahan utama dalam budidaya ayam buras secara intensif adalah mahalnya harga pakan yang memenuhi syarat kebutuhan ayam untuk tumbuh secara optimal, sementara produktivitasnya rendah. Selain itu sulitnya memperoleh bibit unggul, karena memang belum banyak yang mengusahakan bibit ayam buras dalam jumlah banyak.
Dalam hal ini, ayam buras tergolong jenis ayam yang mempunyai produktivitas rendah jika dibandingkan dengan ayam ras impor, namun ayam buras mempunyai keragaman produktivitas yang tinggi, sehingga mempunyai potensi untuk dilakukan seleksi pemilihan ayam yang lebih tinggi produksi telur maupun laju pertumbuhannya. Upaya seleksi ini tidaklah mudah dilaksanakan oleh para peternak biasa.
Guna perbaikan mutu ternak ayam buras dapat dilklakukan melalui seleksi dan breeding. Sumber bibit ayam yang dibudidayakan/dipelihara hendaknya dapat diandalkan tingkat produksi yang dapat diketahui serta sehat. Ayam yang digunakan berasal dari jenis yang seragam dan dipilih sebaik mungkin. Jika ayam dibeli dari luar, maka karantina diperlukan sebagai tindakan pencegahan penyakit. Sampai saat ini dipasaran belum tersedia bibit unggul ayam buras, sehingga kita harus pandai memilih berdasarkan pengalaman dan informasi yang sudah melakukan seleksi bibit ayam buras, anatara lain :
A) Untuk pemilihan calon bibit induk, yaitu : harus sehat dan tidak cacat, memiliki postur tubuh ideal, tidak terlalu gemuk ; perut lunak dan bulu halus; kepala relatif lebih kecil berbentuk lonjong dan halus; jenger/pial jatuh berwarna merah menyala dan halus; mata relatif lebih kecil bulat dan bersinar; gerakannya lincah dan gesit; jarak antara tulang dada dada dan tulang belakang ± 4 jari, jarak antra tulang pubis ± 2 jari; umur yang digunakan untuk induk sebaiknya sekitar 28 minggu;
B) Untuk pemilihan calon bibit pejantan, yaitu : sehat dan kuat serta tidak cacat; badan langsing atau dan agak panjang dengan postur tubuh ideal; kepala relatif besar; dada membusung; paruh pendek dan kuat; jengger/pial tegak dan berwarna merah menyala; bulu mengilap dan bulu ekor tersusun rapi; kaki kokoh dan kuat; berdiri tegap dan gagah ; terdapat taji pada kaki; gerakan aktif dan agresif.
Untuk pencatatan dalam perbibitan sangat dianjurkan dan dilakukan dengan cara sederhana mungkin. Pencatatan sangat berguna untuk pelaksanaan perencanaan selanjutnya. Informasi yang perlu dicatat antara lain : 1) berapa ekor ayam induk dan jago/pejantan yang dimiliki; 2) berapa produksi setiap hari; 3) jenis pakan apa saja yang kita berikan setiap hari, dan berapa banyak; 4) jenis obat;, vaksin, program pencegahan dan pongobatan penyakit; 5) berapa biaya untuk pakan,obat, jenis vaksin, yang telah dikeluarkan; 6) berapa biaya untuk kandang; 7) kapan kandang dibangun dan diperbaiki; 8) induk mana saja yang bertelur banyak; 9) berapa banyak telur yang menetas; 10) berapa banyak anak ayam yang hidup sampai umur tertentu; dan 11) berapa bobot anak ayam dan bagaimana pertumbuhannya.
Perbandingan antara induk dan pejantan/jago dapat disesuaikan dengan kondisi. Apabila jantan berumur 8-12 bulan, perbandingannya 8 : 1 ( 8 ekor betina dicampur dengan 1 elor pejantan/jago ) sedangkan untuk jantan/jago berumur 8 - 20 bulan, perbandingannya 10 : 1 ( 10 ekor betina dicampur dengan 1 ekor pejantan/jago )
C ) Untuk memilih anak ayam buras, yaitu : tidak catat, bulu kering, dubur kering dan bersih, lincah dan sehat, mata bulat dan terang bercahaya, kaki kuat dan berdiri tegak. Penulis ;
Sumber : 1) Brosur Teknologi Budidaya Ayam Buran, Balai Besar Pengkasjian dan Pengembangan Teknogi Pertanian, Departemen Pertanian 2008; 2) Pedoman Beternak Ayam Buras, Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian 1996; 3)  waterholio.blogspot.com (4/10 2010)
Penulis ; Sri Hartati ( Pusat Pengembangan Penyuluhan Pertanian;

AYAM BURAS




1. PENDAHULUAN
Perkembangan ayam buras (bukan ras) atau lebih dikenal dengan sebutan ayam kampung di Indonesia berkembang pesat dan telah banyak dipelihara oleh peternak-peternak maupun masyarakat umum sebagai usaha untuk pemanfaatan pekarangan, pemenuhan gizi keluarga serta meningkatkan pendapatan.

Dikarenakan dengan pemeliharaan sistem tradisional, produksi telur ayam buras sangat rendah, ± 60 butir/tahun/ekor. Berat badan pejantan tak lebih dari 1,9 kg dan betina ± 1,2 ~ 1,5 kg, maka perlu diintensifkan. Pemeliharaan yang intensif pada ayam buras, dapat meningkatkan produksi telur dan daging, dapat
mencegah wabah penyakit dan memudahkan tata laksana.

Sistem pemeliharaan ayam buras meliputi : bibit, pemeliharaan, perkandangan, pakan dan pencegahan penyakit.

2. BIBIT

Ciri-ciri bibit yang baik :

1. Ayam jantan
* Badan kuat dan panjang.
* Tulang supit rapat.
* Sayap kuat dan bulu-bulunya teratur rapih.
* Paruh bersih.
* Mata jernih.
* Kaki dan kuku bersih, sisik-sisik teratur.
* Terdapat taji.
2. Ayam betina (petelur) yang baik
* Kepala halus.
* Matanya terang/jernih.
* Mukanya sedang (tidak terlalu lebar).
* Paruh pendek dan kuat.
* Jengger dan pial halus.
* Badannya cukup besar dan perutnya luas.
* Jarak antara tulang dada dan tulang belakang ± 4 jari.
* Jarak antara tulang pubis ± 3 jari.

3. PEMELIHARAAN

Ada 3 (tiga) sistem pemeliharaan :

1. Ekstensif (pemeliharaan secara tradisional = ayam dilepas dan mencari pakan sendiri).
2. Semi intensif (ayam kadang-kadang diberi pakan tambahan).
3. Intensif (ayam dikandangkan dan diberi pakan).

Apabila dibedakan dari umurnya, ada beberapa macam pemeliharaan, yaitu :

1. Pemeliharaan anak ayam (starter) : 0 - 6 minggu, dimana anak ayam sepenuhnya diserahkan kepada induk atau induk buatan.
2. Pemeliharaan ayam dara (grower) : 6 - 20 minggu.
3. Pemeliharaan masa bertelur (layer) : 21 minggu sampai afkir (.... 2 tahun).

Untuk memperoleh telur tetas yang baik, diperlukan 1 (satu) ekor pejantan melayani 9 (sembilan) ekor betina, sedangkan untuk menghasilkan telur konsumsi, pejantan tidak diperlukan.

4. PERKANDANGAN

Fungsi kandang yaitu :

1. Untuk tempat berteduh dari panas dan hujan.
2. Sebagai tempat bermalam.
3. Untuk memudahkan tata laksana.

Syarat kandang yang baik, yaitu :

1. Cukup mendapat sinar matahari.
2. Cukup mendapat angin atau udara segar.
3. Jauh dari kediaman rumah sendiri.
4. Bersih.
5. Sesuai kebutuhan (umur dan keadannya).
6. Kepadatan yang sesuai.
7. Kandang dibuat dari bahan yang murah, mudah didapat dan tahan lama.

Kepadatan kandang :

1. Anak ayam beserta induk : 1 - 2 m 2 untuk 20 - 25 ekor anak ayam dan 1 - 2 induk.
2. Ayam dara 1 m 2 untuk 14 - 16 ekor.
3. Ayam masa bertelur, 1 - 2 m 2 untuk 6 ekor dan pejantan 1 ekor.

5. PAKAN

Zat-zat makanan yang dibutuhkan terdiri dari : protein, energi, vitamin, mineral dan air. Adapun konsumsi pakan adalah sebagai berikut :

* Anak ayam dara 15 gram/hari
* Minggu I-III 30 gram/hari
* Minggu III-V 60 gram/hari
* Minggu VI sampai menjelang bertelur 80 gram/hari
* Induk 100 gram/hari

Pemberian pakan adalah sehari dua kali, yaitu pagi dan sore, sedangkan air minum diberikan setiap saat.

6. PENYAKIT DAN PENCEGAHAN

1. ND = Necastle Desease = Tetelo
Pencegahan: lakukan vaksinasi ND secara teratur pada umur 4 hari, 4 minggu dan 4 bulan diulangi lagi setiap 4 bulan sekali.
2. Cacingan
Pencegahan : hindarkan pemeliharaan tradisional.
3. CRD (pernafasan)
Pengobatan : Chlortetacyclin (dosis 100-200 gr/ton ransum) atau tylosin (dosis 800 -1000 gr/ton ransum).
4. Berak Darah
Pengobatan : Prepara Sulfa atau anyrolium dilarutkan dalam air minum, dosis 0,012 -0,024% untuk 3 - 5 hari.
5. Pilek
Pengobatan : sulfadimetoxine 0,05% dilarutkan dalam air minum selama 5 -7 hari.
6. Cacar
Pencegahannya : vaksinasi 1 kali setelah lepas induk.

7. ANALISA USAHA AYAM BURAS

1. Pengeluaran
1. Bibit: 100 ekr x Rp. 12.000,- -----------------------------> Rp. 1.200.000,-
2. Pakan100 ekr x 360 hr x 100 gr x Rp. 491,- / 1000 ------> Rp. 1.767.600,-
3. Penyusutan kandang/th Rp. 500.000: Rp. 50.000/2 th -----> Rp. 225.000,-
4. Tenaga kerja: 12 x Rp. 150.000,- /bulan ------------------> Rp. 1.800.000,-
5. Vaksin dan Obat: 100 ekr x 4 kali x Rp. 50,- -------------> Rp. 20.000,-
Total ------------------------------------------------------> Rp. 5.012.600,-
2. Pendapatan
1. Penjualan telur/th 95%x100 ek x 25% x 360 hr x Rp. 300,- -----> Rp 2.565.000,-
2. Penjualan kotoran ayam/th 25 grx95 ekrx360 x Rp. 2.000,- -----> Rp. 34.200,-
3. Penjualan ayam afkir: 95 ekr x Rp. 13.500,- ---------------------> Rp. 1.282.500,-
Total ------------------------------------------------------------> Rp. 3.881.700,-
3. Penghasilan/tahun: pendapatan - pengeluaran - Rp. 1.130.900,-
Karena keuntungannya negatif, maka sebaiknya untuk pemeliharaan 100 ekor ayam, tenaga kerja cukup ditangani oleh peternak, sehingga biaya untuk tenaga kerja Rp. 0,-. Dengan kata lain, untuk pemeliharaan 100 ekor ayam :
1. Pengeluaran Rp. 3.212.600,-
2. Pendapatan Rp. 3.881.700,-
3. Keuntungan Rp. 669.100,-
keuntungan/bln Rp. 55.758,-

Asumsi harga pasaran bulan Februari 1996

1. Harga bibit siap telur/ekor Rp. 12.000,-
2. Harga telur/butir Rp. 300,-
3. Harga pakan, dengan susunan:
* 30 kg pakan Rp. 300,- /kg
* 50 kg pakan layer (441) Rp. 605,- /kg
* 1 kg mineral Rp. 500,- /kg
4. Harga ayam apkir Rp. 13.500,-
5. Harga kotoran ayam 1 karung (50 kg) Rp. 2.000,-
6. Mortalitas (kematian) 5%
7. Produktivitas telur 25%
8. Biaya kandang ayam perekor Rp . 5.000,-
9. Biaya vaksin & obat perekor Rp. 50,-

8. SUMBER

Brosur Intensifikasi Ternak Ayam Buras, Dinas Peternakan, Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jakarta (tahun 1996).

9. KONTAK HUBUNGAN

Dinas Peternakan, Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jl. Gunung Sahari Raya No. 11 Jakarta Pusat, Tel. (021) 626 7276, 639 3771 atau 600 7252 Pes. 202.

PEMILIHAN BIBIT AYAM BURAS

1. KELUARAN
Teknik pembibitan bibit ayam buras yang baik
2. PEDOMAN TEKNIS
1. Calon induk betina:
* sehat dan tidak cacat
* lincah dan gesit
* mata bening dan bulat
* rongga perut elastis
* tidak mempunyai sifat kanibal
* bebas dari penyakit
* umur 5 - 12 bulan.
2. Calon pejantan:
* sehat dan tidak cacat
* penampilan tegap
* bulu halus dan mengkilap
* tidak mempunyai sifat kanibal
* umur 8 - 24 bulan.
Jumlah induk dan pejantan disesuaikan dengan kondisi dan umurnya antara 8 - 10 : 1


PENETASAN ALAMI AYAM BURAS

1. KELUARAN
Sangkar tetas dengan hasil daya tetas tinggi.
2. BAHAN
Bambu, kawat, paku, rumput kering.
3. ALAT
Gergaji, pisau serut, palu, tang, dll.
4. PEDOMAN TEKNIS
1. Sangkar penetasan dibuat dari bambu berbentuk kerucut dengan suhu penetasan dalam sangkar pengeraman cukup baik.
2. Cara pembuatan
1. Potong bambu berdiameter 25 - 50 cm sepanjang 125 cm, 1/3 bagian harus berada di atas ruas sedangkan yang 2/3 bagiannya sebagai tiang
penyangga.
2. satu pertiga dari bambu bagian atas dibelah-belah kecil ( 1-1,5 cm), dihaluskan, kemudian dianyam dengan belahan bambu tipis, dimulai dari
bagian ujung bawah belahan bambu, sehingga berbentuk kerucut.
3. Bagian ujung paling atas diikat dengan kawat tali, agar ayaman tidak lepas.
4. Sangkar diletakkan di tempat yang aman dan jauh dari keramaian dan terhindar dari gangguan hewan liar.
5. Bagian bawah sangkar dialasi dengan rumput kering, yang merupakan alas/tempat diletakkannya telur dan sekaligus sebagai tempat penetasan.
3. Sangkar penetasan kerucut ini menghasilkan daya tetas telur 77,37 %, kematian embriyo 16,64 %, suhu maksimum 102,3°C dan suhu minimum 83,5°C.



Posted By Royan
SUMBER : Departemen Pertanian, http://www.deptan.go.id, Maret 2001,
Brosur Intensifikasi Ternak Ayam Buras, Dinas Peternakan, Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jakarta (tahun 1996)

HALAMAN FACEBOOK